OPLET Kota Pontianak, Ke Mana Mereka Sekarang?

Kalau orang Pontianak yang sudah cukup lama tinggal di kota ini mendengar kata oplet, mungkin langsung teringat kendaraan kecil yang dulu menjadi salah satu angkutan umum andalan masyarakat. Bentuknya sederhana, tempat duduknya berhadapan dan biasanya cukup padat kalau sedang banyak penumpang.

Salah satu yang cukup mudah dikenang adalah oplet berwarna kuning jurusan Sungai Raya. Kendaraan ini dulu sangat akrab dengan perjalanan antara Pontianak dan Sungai Raya. Bahkan sampai sekarang, kalau mencari cerita atau video tentang oplet Pontianak di internet, termasuk YouTube, nama oplet kuning jurusan Sungai Raya masih sering muncul dan menarik perhatian orang yang ingin bernostalgia.

Inilah oplet kuning yang melegenda.  Sumber foto alid saloi youtube channel
Inilah oplet kuning yang melegenda.  Sumber foto alid saloi youtube channel


Oplet kuning jurusan Sungai Raya

Bagi saya sendiri, oplet bukan sekadar cerita yang saya baca dari internet. Saya pernah mengalaminya secara langsung.

Dulu saya bekerja di Pontianak Post, pada masa ketika nama surat kabar itu masih sangat dekat dengan nama Akcaya. Pada masa itu saya tinggal di tempat kos di Kompleks Tanjung Sari. Untuk pergi bekerja ke arah pusat kota, salah satu pilihan transportasi yang saya gunakan adalah oplet.

Yang paling saya ingat tentu saja kendaraan kecilnya, suasana di dalam oplet dan penumpangnya yang kadang cukup penuh. Salah satu kenangan yang masih melekat adalah oplet berwarna kuning. Kalau sekarang melihat foto atau video oplet kuning di internet, rasanya seperti dibawa kembali ke suasana Pontianak beberapa puluh tahun lalu.

Untuk jurusan Sungai Raya, catatan mengenai trayek angkutan kota Pontianak mencatat rute yang menghubungkan kawasan Terminal Kapuas dengan Sungai Raya melalui Jalan Tanjung Pura, Jalan Imam Bonjol dan Jalan Adisucipto hingga Terminal Sungai Raya.

Jadi, oplet kuning Sungai Raya memang bukan sekadar cerita nostalgia, tetapi bagian dari sistem angkutan kota yang pernah melayani mobilitas masyarakat Pontianak dan kawasan sekitarnya.

Dulu oplet sangat penting bagi warga

Pada masa jayanya, oplet menjadi kendaraan yang cukup penting bagi masyarakat. Tidak semua orang mempunyai sepeda motor atau mobil pribadi seperti sekarang.

Pelajar, mahasiswa, pegawai, pedagang dan masyarakat umum mengandalkan angkutan umum untuk pergi dan pulang dari berbagai tempat.

Sebuah tulisan mengenai sejarah oplet Pontianak mencatat bahwa pada masa tertentu terdapat lebih dari 30 trayek oplet. Beberapa kawasan yang disebut antara lain Nipah Kuning, Soedarso, Dahlia, Kemuning, Parit Mayor dan Pal 3. Salah satu trayek yang dicatat menghubungkan Terminal Kapuas Indah dengan Terminal Batu Layang, Sungai Raya Dalam, KWH Hasyim, Jalan Merdeka, RSUD Soedarso hingga Nipah Kuning.

Artinya, dulu oplet bukan hanya melayani satu atau dua kawasan. Jaringan trayeknya cukup luas dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga Pontianak.

Berapa sebenarnya tarif oplet dulu?

Nah, bagian ini menarik karena ingatan orang bisa berbeda-beda.

Saya sendiri masih mengingat tarif oplet yang pernah saya bayar sekitar Rp250. Tetapi saya tidak berani memastikan angka tersebut benar karena kejadiannya sudah cukup lama.

Sementara itu, sebuah tulisan tentang sejarah oplet Pontianak mencatat bahwa pada masa tertentu tarif penumpang umum adalah sekitar Rp500, sedangkan pelajar sekitar Rp200.

Perbedaan angka seperti ini sangat mungkin terjadi karena tarif berubah mengikuti zaman, tahun, trayek atau kategori penumpang.

Karena itu, kalau ada pembaca yang pernah menjadi penumpang atau bahkan sopir oplet pada masa tersebut, silakan berbagi informasi. Bisa jadi pembaca justru mempunyai catatan yang lebih tepat mengenai tarif oplet pada tahun-tahun tertentu.

Kenapa oplet mulai menghilang?

Pertanyaan berikutnya tentu saja: kalau dulu oplet begitu penting, kenapa sekarang semakin sulit ditemukan?

Salah satu penyebabnya adalah perubahan pola transportasi masyarakat.

Jumlah kendaraan pribadi meningkat. Sepeda motor menjadi jauh lebih mudah dimiliki dan digunakan untuk perjalanan sehari-hari. Kemudian muncul pula transportasi berbasis aplikasi yang memberikan pilihan perjalanan langsung dari lokasi penumpang menuju tujuan.

Sementara itu, kondisi armada oplet juga menjadi persoalan. Banyak kendaraan yang sudah berusia tua sehingga dari sisi kenyamanan tentu kalah dibandingkan kendaraan yang lebih baru.

Penelitian mengenai ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi di Kota Pontianak menunjukkan penurunan jumlah oplet dari 368 unit pada 2011 menjadi 266 unit pada 2012 dan 200 unit pada 2013. Penelitian tersebut juga menggambarkan kondisi angkutan umum kota yang kurang menarik dan kalah bersaing dengan meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi.

Jadi, hilangnya oplet dari jalan-jalan Pontianak bukan terjadi dalam satu malam. Prosesnya berlangsung perlahan, ketika jumlah penumpang berkurang sementara kendaraan pribadi terus bertambah.

Terminal dan jumlah penumpang ikut berubah

Transportasi umum sangat tergantung pada jumlah penumpang. Kalau penumpang banyak, kendaraan bisa terus beroperasi. Tetapi kalau penumpang semakin sedikit, pendapatan sopir ikut berkurang.

Dulu orang mungkin rela menunggu oplet di pinggir jalan atau terminal karena pilihan kendaraan tidak banyak.

Sekarang situasinya berbeda. Orang bisa menggunakan sepeda motor sendiri atau memesan kendaraan melalui aplikasi dari rumah.

Di sisi lain, armada oplet yang semakin tua membuat biaya pemeliharaan juga menjadi persoalan. Sopir harus memikirkan bahan bakar, perawatan kendaraan dan pendapatan yang semakin tidak pasti.

Akhirnya, sebagian kendaraan berhenti beroperasi.

Dari Pontianak Post sampai oplet

Bagi saya, kenangan tentang oplet juga tidak bisa dipisahkan dari perjalanan hidup ketika bekerja di Pontianak Post.

Harian Akcaya pertama kali terbit pada 2 Februari 1973. Pada 1992, kantor surat kabar tersebut pindah ke gedung baru di Jalan Gajah Mada Nomor 2–4. Kemudian pada 1998 namanya berubah menjadi Akcaya Pontianak Post, sebelum akhirnya sejak 2 Februari 2002 menggunakan nama Pontianak Post.

Jadi ketika saya mengenang masa bekerja di sana, suasana kota Pontianak pada masa itu terasa berbeda. Oplet masih menjadi bagian dari kehidupan transportasi kota dan kendaraan pribadi belum sebanyak sekarang.

Oplet kuning sekarang tinggal kenangan?

Tidak juga.

Mungkin jumlahnya sudah jauh berkurang dibandingkan masa lalu, tetapi nama oplet masih muncul dalam cerita warga, foto-foto lama dan video di internet.

Menariknya, oplet kuning jurusan Sungai Raya justru menjadi salah satu yang mudah ditemukan ketika orang mencari dokumentasi oplet Pontianak. Ada sesuatu yang menarik dari kendaraan lama seperti ini. Bagi generasi yang pernah menggunakannya, sebuah foto atau video oplet saja bisa mengingatkan pada perjalanan ke sekolah, tempat kerja, pasar atau pulang ke rumah.

Bagi generasi yang lebih muda, mungkin justru muncul pertanyaan: “Memangnya dulu angkutan umum Pontianak seperti ini?”

Itulah sebabnya dokumentasi berupa foto dan video lama menjadi penting. Kendaraan yang dahulu dianggap biasa saja ternyata beberapa puluh tahun kemudian bisa menjadi bagian dari sejarah kota.

Kalau sekarang hampir tidak terlihat, ke mana opletnya?

Sebagian mungkin sudah berhenti beroperasi. Sebagian lainnya kemungkinan sudah tidak layak digunakan sebagai angkutan penumpang. Ada pula kendaraan lama yang berubah fungsi atau tidak lagi terlihat di jalan seperti dahulu.

Perubahan ini sebenarnya bukan hanya terjadi pada oplet. Banyak jenis transportasi lama di berbagai kota mengalami nasib serupa ketika masyarakat beralih ke kendaraan pribadi dan model transportasi baru.

Namun, hilangnya kendaraan dari jalan bukan berarti hilang pula ceritanya.

Oplet pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Pontianak. Ia membawa pelajar ke sekolah, pegawai ke kantor, pedagang ke pasar dan masyarakat dari satu kawasan ke kawasan lainnya.

Dan salah satu simbol yang paling mudah diingat mungkin memang oplet kuning jurusan Sungai Raya.

Ada yang punya cerita tentang oplet?

Tulisan ini juga bukan bermaksud menganggap semua ingatan saya pasti benar. Justru karena sebagian cerita ini berasal dari pengalaman dan kenangan yang sudah puluhan tahun berlalu, sangat mungkin ada nama trayek, tarif, tahun, warna kendaraan atau rute yang kurang tepat.

Kalau Anda pernah naik oplet di Pontianak, pernah menjadi sopir oplet, atau masih menyimpan foto oplet lama, silakan ikut berbagi cerita di kolom komentar.

Misalnya, berapa tarif oplet ketika Anda masih sekolah? Oplet jurusan mana yang paling sering Anda gunakan? Apakah benar oplet jurusan Sungai Raya identik dengan warna kuning? Dari terminal mana biasanya Anda naik? Dan kapan terakhir kali Anda melihat oplet tersebut beroperasi?

Koreksi dari pembaca sangat saya harapkan. Kalau ada informasi yang keliru mengenai nama, angka, tahun, tarif, warna, trayek atau urutan sejarahnya, silakan dikoreksi.

Sebab cerita tentang oplet Pontianak bukan hanya cerita saya. Ini adalah bagian dari kenangan banyak orang yang pernah hidup dan beraktivitas di Kota Pontianak pada zamannya.


Setiap hari kita melihat berbagai macam kejadian di jalan. Ada yang terburu-buru mengejar waktu, ada yang menerobos lampu merah, ada juga yang menggunakan ponsel sambil berkendara. Kadang hal-hal kecil seperti itu terlihat sepele, tetapi bisa berujung pada kecelakaan. Nah, supaya perjalanan tetap nyaman dan aman, berikut beberapa tips sederhana yang bisa kita biasakan ketika berada di jalan.

Catatan Kaki / Referensi

[1] Agus Wahyuni, “Opelet Pontianak, Riwayatmu Kini,” KalbarOke, 10 Oktober 2014. Tulisan ini menjadi rujukan untuk informasi mengenai sejarah oplet Pontianak, tarif, trayek, terminal, jumlah penumpang, serta kondisi armada pada masa tersebut.

[2] Pratiwi Ramelia dan Jawoto Sih Setyono, “Ketergantungan Terhadap Kendaraan Pribadi di Kota Pontianak Kalimantan Barat,” Jurnal Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota), Universitas Diponegoro, 2015. Penelitian ini antara lain mencatat jumlah oplet di Kota Pontianak sebanyak 368 unit pada 2011, 266 unit pada 2012, dan 200 unit pada 2013.

[3] “Analisis Kelayakan Pengembangan Oplet sebagai Moda Transportasi Umum di Kota Pontianak,” Jurnal Teknik Sipil Universitas Tanjungpura. Penelitian ini membahas kinerja pelayanan serta kelayakan ekonomi oplet sebagai moda transportasi umum di Kota Pontianak.

[4] Syahriani Siregar, “Saksi Sejarah Lintas Generasi,” Pontianak Post, 2 Februari 2023. Artikel ini menjadi rujukan untuk sejarah perjalanan Harian Akcaya hingga menjadi Pontianak Post. Penulis artikel, Suahriani Siregar, merupakan jurnalis Pontianak Post yang pernah bertugas di halaman Expressi dan pernah dikenal oleh penulis artikel ini ketika berada di lingkungan Pontianak Post sekitar awal 2000-an.

[5] Dokumen kajian transportasi Kota Pontianak yang memuat daftar trayek angkutan kota (oplet), termasuk trayek Kuning (Sungai Raya) dengan rute Terminal Kapuas – Jalan Tanjung Pura – Jalan Imam Bonjol – Jalan Adisucipto – Terminal Sungai Raya.

Catatan penulis: Sebagian informasi dalam artikel ini juga berasal dari pengalaman dan ingatan pribadi penulis yang terjadi beberapa puluh tahun lalu. Karena itu, apabila terdapat kekeliruan mengenai tarif, tahun, warna kendaraan, nama trayek, rute, terminal atau jumlah armada, penulis sangat terbuka terhadap koreksi dan tambahan informasi dari pembaca.


Komentar