PONTIANAK — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti Kota Pontianak dan sejumlah wilayah di Kalimantan Barat. Kondisi tersebut semakin terasa dalam beberapa hari terakhir, ditandai dengan menurunnya jarak pandang, udara yang berbau asap, serta meningkatnya konsentrasi partikel halus di udara.
Pada Sabtu (12/9/2026), kualitas udara Kota Pontianak berdasarkan pemantauan IQAir tercatat berada pada kategori berbahaya. Konsentrasi PM2.5 dilaporkan mencapai 761 mikrogram per meter kubik pada pukul 12.00 WIB. Kondisi tersebut membuat masyarakat semakin khawatir, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta warga yang memiliki gangguan pernapasan.
Kabut asap juga berdampak pada aktivitas penerbangan. Bandara Internasional Supadio di Kabupaten Kubu Raya mengalami gangguan operasional karena jarak pandang yang tidak memenuhi standar keselamatan penerbangan. Dalam tiga hari terakhir, sebanyak 73 penerbangan dilaporkan mengalami penundaan atau penjadwalan ulang akibat kondisi asap.
Dampak serupa dirasakan di daerah lain. Kota Singkawang dilaporkan mengalami kualitas udara tidak sehat dengan nilai ISPU mencapai 180. Sementara itu, hampir seluruh wilayah Kabupaten Kayong Utara juga dilaporkan mengalami kualitas udara yang masuk kategori berbahaya akibat kabut asap.
Kabupaten Kubu Raya menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian serius dalam penanganan karhutla. Selain Kubu Raya, titik panas dan kebakaran juga ditemukan di sejumlah wilayah seperti Ketapang, Sanggau, Landak, Kayong Utara, Melawi, Mempawah, dan Sintang. Kondisi lahan gambut yang mudah mengering membuat kebakaran sulit dipadamkan dan berpotensi menghasilkan asap dalam waktu lama.
![]() |
| Kabut asap menyelimuti kawasan Sungai Kapuas di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, sehingga jarak pandang dan aktivitas masyarakat ikut terdampak. |
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar mengingatkan bahwa kabut asap yang menyelimuti suatu wilayah tidak selalu berasal dari kebakaran di daerah tersebut. Asap dapat terbawa angin dari wilayah lain, bahkan melintasi batas kabupaten, provinsi, hingga wilayah negara. Karena itu, penurunan jumlah titik api tidak serta-merta membuat kabut asap langsung menghilang.
Pemerintah bersama berbagai unsur terkait terus melakukan upaya pemadaman melalui operasi darat dan udara. BMKG juga mendukung pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk memanfaatkan potensi hujan guna membasahi lahan gambut dan mengurangi titik api.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat Pontianak dan daerah lainnya diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker ketika beraktivitas, memperbanyak minum air putih, serta segera memeriksakan diri apabila mengalami sesak napas, batuk berkepanjangan, atau iritasi mata. Pemerintah Kota Pontianak juga memastikan fasilitas kesehatan tetap disiagakan untuk melayani warga terdampak asap.
Kabut asap menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla membutuhkan kerja bersama. Selain pemadaman, pencegahan kebakaran, perlindungan masyarakat, serta pengawasan terhadap kawasan gambut menjadi langkah penting agar bencana serupa tidak terus berulang.


0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !